Aku, Kamu dan Sepenggal Kata Hijrah



Tik.. tik.. tik.. waktu berdetik, tak mungkin bisa kuhentikan. Seperti itulah kurang lebih lagu dari band kotak yang biasa saya dengar walaupun tidak hafal-hafal sampai sekarang. Sambil santai di sore hari ditemani pisang goreng dan teh manis panas yang berpotensi menambah kalori badan saya dan berakibat sempitnya pinggang celana ini. Sedikit saya renungi pembukaan lirik  lagu band kotak yang berjudul masih cinta ini, tidak terbantahkan kebenaranya bahwa waktu tidak bisa kita hentikan. Dia terus saja berlalu detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, sampai tahun demi tahun. Memang  seperti itulah waktu terus berjalan dengan cepat. Seperti sekarang, tidak terasa sudah memasuki tahun baru hijriah dimana sebagian besar kaum muslimin merayakannya.

Tahun baru hijriah adalah tahun baru umat islam yang dalam menentukannya umat islam berpegang pada metode ru’yah  dan hisab. Tahun hijriah mulai dihitung ketika nabi hijrah dari makkah ke madinah. Dimana waktu itu keadaan di makkah sudah tidak kondusif untuk berdakwah karena banyak sekali pertentangan, penyiksaan, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh kaum musyrikin makkah terhadap kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah memerintahkan nabi Muhammad untuk hijrah ke madinah agar dakwah islam mendapat suaka politik yang kuat. Dimana waktu itu sudah banyak penduduk madinah yang mulai menerima dakwah islam. Hijrah bukanlah perkara mudah pada waktu itu. Karena, kaum muslimin harus meninggalkan tanah air yang mereka cintai beserta harta bendanya demi menaati perintah Allah. Akan tetapi, demi kemajuan dakwah islam mereka dengan sukarela berhijrah untuk membangun peradaban yang sangat besar dalam sejarah manusia.

Sekarang kata “hijrah” sering sekali di pakai oleh anak muda seperti saya (cie masi muda), kamu, dia dan kita semua yang pada umumnya berumur kepala satu kebawah sebagai bentuk perubahan sikap, dari yang tadinya masi agak nakal menuju lebih baik dalam bersikap. Gejala hijrah milenial ini sepertinya sangat subur dikalangan anak muda. Ditandai dengan banyaknya nasihat-nasihat untuk anak muda di sosmed, suburnya kajian keislaman di sekolah maupun kampus, bahkan sampai banyak anak muda yang bikin komunitas pengajian sendiri. Tentunya, saya sangat merespon positif gerakan hijrah milenial ini. Karena, banyak berdampak positif bagi perkembangan dakwah islam dikalangan anak muda. Sebab, dakwah itu fleksibel, tidak monoton. Ia bisa menyesuaikan diri dengan mad’unya. Tapi yang saya sayangkan, sekarang sebagian anak muda memahami hijrah sebatas dari segi penampilan saja. Seperti jilbab yang lebar, jenggot yang panjang dan celana yang agak digantung dikit (tidak isbal) dan satu lagi yang paling ramai yaitu konsep nikah muda. Bukan berarti saya menolak jilbaber, celana cinkrang, jenggot panjang dan kajian nikah muda, saya malah sangat mengapresiasi teman-teman akhwat yang mau memakai jibab besar, karena itu bukan perkara mudah. Terlebih mereka yang sebelumnya tidak berjilbab. Namun, para akhwat jilbaber  juga tidak boleh memandang rendah mereka yang tidak berjilbab dan masi berjilbab kecil. Sebab, tugas kita hanya mengajak dan mendoakan kebaikan untuk mereka bukan memaksakan kebaikan.  Begitupun akhwat yang belum  berhijab, tidak boleh menuduh wanita yang berjilbab besar dengan tuduhan teroris. Ikhwanpun demikian, jangan cuma sibuk ngukur celana dan jenggot ikhwan lain. Karena, dalam hukum isbal dan memanjangkan jenggotpun para ulama masi berselisih pendapat. Maka, alangkah baiknya berkhusnudzon dengan sesama muslim. Mungkin mereka yang isbal dan tidak berjenggot, punya pemahaman yang berbeda terkait masalah ini. Begitu juga kajian nikah muda yang marak belakangan ini dikalangan anak muda. Banyak sekali ustadz-ustadz yang mengajak anak muda segera menikah tanpa mengajarkan bagaimana cara menjalani pernikahan yang baik. Bukan berarti penulis gak mau nikah muda ya, mau banget malah kalau Allah kasi kesempatan hehe.. Akan tetapi, lebih afdhal kalau ada edukasi mendalam tentang menjalani rumah tangga dari pada sekedar motivasi nikah muda. Ala kulli hal, penulis sangat bersyukur dengan adanya gerakan hijrah kaum muda di era milenial ini yang sangat memengaruhi secara positif dunia anak muda. Dimana sekarang anak muda banyak sekali yang terlena, zina terjadi dimana-mana, minuman keras diteguk disana-sini, begitu juga club-club malam yang tidak sepi dari kaum muda. Akan tetapi, kritik dari penulis semoga bisa jadi masukan agar kita semua menjadi lebih baik lagi. Penulis mengkritik bukan karena penulis orang yang baik, bahkan penulis adalah orang yang banyak berbuat salah dan dosa serta butuh banyak nasihat dan masukan. Semoga tulisan ini bermanfaat demi kebaikan kita bersama

با الله سبيل الحق فاستبقوا الخيرات

Komentar