Mengontrol Emosi

“Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah.” (Aristoteles, The Nicomachean Ethics)

 Ada satu kemampuan dasar manusia untuk mempertahankan hidup yang disebut kecerdasan emosional: misalnya, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi; untuk membaca perasaan terdalam orang lain; untuk memelihara hubungan sebaik-baiknya.

 Dalam buku The Nicomachean Ethics, Aristoteles menyebutkan, “Nafsu, apabila dilatih dengan baik, akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi.” Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan, antara emosi dan cara mengekspresikannya. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita dapat membawa kecerdasan ke emosi kita, dan peradaban ke jalan-jalan serta membawa kepedulian ke dalam kehidupan kita bersama?

Semua itu merupakan pernyataan Daniel Goleman yang dikutip dari bukunya. Tapi ketika kita membaca melalui kacamata Islam, pembahasan Goleman ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari dijelaskan oleh seorang pemuda cerdas dari tanah Arab. Penjelasannya sangat rinci, tentang emosional. Bagaimana menjadi seorang manusia yang mampu membawa peradaban ke jalan-jalan, seperti yang diungkapkan oleh Aristoteles. Pengajaran pemuda itu hingga saat ini memberi pengaruh besar dalam peradaban manusia. Seperti yang tertulis dalam hadist riwayat At-Thabrani,
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ:لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّة
Abu Darda Radhiallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukanlah padaku amalan yang dapat memasukanku ke dalam surga.” Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.”
 Pemuda itu adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Guru dari segala guru, dan teladan dari segala teladan. Beliau sudah mengajarkan rumus pengaturan emosi agar emosi tersebut mampu diselaraskan dengan kecerdasan. Dalam riwayat Al-Maruzi, dikisahkan seorang pemuda bertanya kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam, “Wahai Rasul, apakah agama Islam itu?” Rasul menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian dia datang dari sebelah kiri dan bertanya, “Apakah agama itu?” Rasul menjawab, “Akhlak yang baik.” Kemudian dia datang lagi dari sebelah kanan dan bertanya hal yang sama, kemudian Rasul menjawab, “Akhlak yang baik.” Pemuda itu bertanya kembali dari arah belakang, “Wahai Rasul, apakah agama itu?” maka Rasul melihat orang itu, kemudian menjawabnya, “Apakah kamu tidak mengerti, agama adalah engkau jangan marah.”

Sebegitu apiknya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mendefinisikan agama. Melalui pengertian tersebut Rasul ajarkan umatnya mengenai kontrol emosi. Seolah menyiratkan makna, “Kalau kamu merasa beragama Islam, maka berakhlaklah yang baik dan janganlah marah.” Inilah Islam. Jauh sebelum Aristoteles mengemukakan pernyataannya, Rasulullah sudah lebih dulu mengajari umatnya perihal ini. Faktanya memang sumber dari segala sumber hukum adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Ketika kita mampu mengamalkan ajaran-ajaran didalamnya, dengan mudah kita mampu merealisasikan pertanyaan Aristoteles diatas; bagaimanakah kita dapat membawa kecerdasan ke emosi kita, dan peradaban ke jalan-jalan serta membawa kepedulian ke dalam kehidupan kita bersama?
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang yang kuat itu yang hebat bergulat. Tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari Muslim)

 Rasul pun melarang umatnya bermudah-mudah marah bukan tanpa alasan. Sebab dalam beberapa kajian keilmuan mengenai marah atau emosi berlebihan, menyatakan bahwa emosi semacam itu membawa dampak buruk terhadap tubuh kita. Diantaranya adalah mengganggu sistem pencernaan, sulit tidur, tekanan darah tinggi, sampai serangan jantung. Dalam penelitian yang dilakukan The European Heart Journal Acute Cardiovascular Care, orang yang marah secara intens akan meningkatkan resiko sampai 8,5 kali terkena serangan jantung. Masya Allah. Selain itu, Imam Ja’far bin Muhammad pernah berkata, “(melampiaskan) kemarahan adalah kunci segala keburukan.”
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran:134)

Maka memahami kondisi emosional kita adalah hal yang diharuskan agar kitalah yang mengontrol emosi, bukan emosi yang mengontrol kita.

Oleh: Halwa Hasna Adiba
Referensi: Buku Emotional Intelligence, karya Daniel Goleman

Komentar