Kyai yang Progresif
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana dulu negeri kita ketika dijajah oleh belanda sampai tiga Abad?
Dan ketika kita dijajah, kita dibodohi oleh penjajah, tidak semua kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan tinggi. Hanya mereka saja yang terlahir dari keluarga bangsawan atau dulu disebut priyayi, bahkan kalau kita perhatikan, gerakan Boedi Oetomo keanggotaannya hanya terdiri dari kalangan priyayi saja, seolah-olah pendidikan tinggi adalah hak bagi mereka yang terlahir dari kalangan terhormat, dan kaum proletar tidak bisa mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Tapi pernahkah membayangkan, di zaman seperti itu tiba-tiba muncul sosok pembaharu, yang pemikirannya hingga saat ini masih membekas dan tentu saja menghasilkan sebuah perubahan yang besar bagi bangsa ini, terkhusus Umat Islam di negeri ini, siapakah beliau?
Ya, beliau adalah K.H. Ahmad Dahlan seorang pendiri daripada Persyarikatan Muhammadiyah. Namanya sudah tidak asing lagi, bahkan nama beliau diabadikan menjadi nama jalan. Beliau dilahirkan di Kota Jogja pada 1 Agustus 1868, bapak beliau adalah seorang Ketib Amin (Khatib Agung) Masjid Gede Kauman, yaitu Kyai Abu Bakar, dan beliau terlahir dengan nama Muhammad Darwisy.
Darwisy kecil ternyata sudah memiliki sikap kritis, diantaranya Darwisy kecil berani mempertanyakan praktek masyarakat pada saat itu, yaitu meminta pertolongan lewat perantara pohon beringin yang dianggap kramat. Di umur 15 tahun, beliau berangkat menuju Makkah untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus menuntut ilmu, disana beliau berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi yang merupakan seorang Ulama Syafi’iyah dari Nusantara. Begitupun beliau disana terpengaruh oleh Pembaharu Islam, diantaranya adalah Al Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Beliau dua kali mukim di Mekkah.
Ahmad dahlan merupakan nama yang diberikan oleh gurunya di Makkah, beliau aktif di Syarekat Islam, Jam’iyatul Khair, dan Boedi Oetomo. Beliau memiliki pemikiran yang maju, dan bisa dibilang melawan arus mainstream, yaitu beliau membuka sekolah umum yang dimana sekolah umum tersebut diperuntukkan semua kalangan. Beliau ketika mengajarkan Al Qur’an sering mengulang-ngulang pembahasan Surah Al-Maun yang dimana beliau ingin menekankan pentingnya peduli terhadap sesama Manusia, lalu beliau juga yang pertama kali merubah arah Kiblat Masjid yang ketika itu ternyata tidak sesuai. Hal ini sampai membuat para Kyai murka, karena dianggap meniru orang Kafir. Beliau juga menginisiasi berdirinya Musholla di tempat umum, lalu beliau juga menginisisasi berdirinya Klinik Kesehatan, dan masih banyak lagi.
Jika kita simpulkan, pemikiran Kyai Dahlan ternyata masih berpengaruh hingga saat ini, dan tentu saja setelah Persyarikatan yang didirikan oleh beliau yang sudah berumur 108 tahun ini ternyata membawa perubahan yang besar bagi bangsa kita. Salah satu nasehat Kyai Dahlan yang sangat terngiang-ngiang dipikiran penulis adalah “dadio kyai seng maju” atau jika diartikan, ”jadilah kyai yang berkemajuan."
Hal yang paling penting untuk menjadi renungan bagi kita adalah, ”Berani melawan arus” karena inilah, Kyai Dahlan mampu membuat inovasi baru yang dampaknya masih bisa kita rasakan hingga saat ini.
Oleh : Izzatur Rahman Pradiatma, LDKSFDI 2020.
Komentar
Posting Komentar