Akulah Sang Mantan
Mantan?
Apa yang terbesit saat terdengar kata mantan?
Apa hubungan dua orang yang pernah ada namun di saat keduanya dihadapkan dengan suatu hal yang tak bisa dihindarkan dan keduanya pun terpisah, apa itu yang dinamakan mantan?
Lebih tepatnya mantan yang pernah dekat. Jadi, apa ada yang namanya mantan guru? Toh, dulunya juga pernah dekat dan pada saat perpisahan tiba, keduanya pun juga sempat terpisah kan?
Apa ini juga yang disebutkan dengan mantan?
Dalam KBBI mantan adalah bekas pemangku jabatan ( Kedudukan )
Tapi kali ini aku ingin menjelaskan bahwa aku adalah sang Mantan.
***
Aku pernah merasa menduduki posisi yang di mana aku berada pada jalan yang benar, aku juga pernah merasa bahwa aku lebih baik dari mereka dan lebih parahnya lagi aku pernah merasa mereka salah dan akulah yang benar. Cukup sudah aku bergelut dalam pikiran seperti itu dan akhirnya aku menyerah berasumsi berlebihan setelah langkahku semakin jauh dan menyederhanakan cara pandang dan juga dalam pemikiran.
Saat itu aku baru mengenal dunia pesantren. Ya, siapa yang tidak tau bagaimana kehidupan pesantren yang terkenal dengan santri yang terlalu rajin melanggar karena emang iya di pesantren itu kumpulan orang bandel yang beranjak teratur. Aku mulai mengenal diantara mereka yang menurutku sangat jauh dari kata baik
" ini orang ga di didik apa ya sama orang tuanya?" Pikirku saat melihat tingkah mereka seringkali membuatku tidak nyaman, semakin lama semakin meningkat perubahan mereka hingga pada suatu ketika aku yang merasa orang yang paling benar langsung tertampar dengan penampakan yang selama ini jauh dari apa yang ku bayangkan, jauh dari apa yang selama ini ku pikirkan.
Malam itu tepatnya pada jam 02.46 ketika para santri terlelap aku temukan sosok dia yang ku anggap jauh dari kata baik, aku tidak sengaja terbangun karena kebetulan aku ingin ke kamar mandi, aku amati diam-diam apa yang ia lakukan dengan kitab kuning yang lusuh itu.
Awalnya dia hanya membaca beberapa matan kitab itu namun pada akhirnya ia putuskan untuk memasukkan kepalanya ke dalam ember dan membaca matan itu berulang kali, aku tidak paham apa maksudnya tapi ketika ku perhatikan lagi itu adalah cara yang bagus dalam menghapal, ketika ia mengucapkan matan itu pastinya suaranya akan memantul dalam ember itu sendiri dan pastinya akan ditangkap oleh indera pendengarannya.
Lain hal lagi ketika aku temukan dia yang biasa saja dan bahkan tidak seperti orang yang mengenal agama dengan baik, aku melihat tingkahnya ketika sepi. Perlahan ia buka lembaran mushaf itu dan melafalkannya semakin tersenyum dan ketika ditanya Al-Qur'an sudah ia kuasai
Yaallah, mana aku yang merasa lebih?
Mana aku yang merasa paling baik?
Mana aku yang merasa paling benar?
Bahkan dulu aku juga pernah seperti mereka tapi apa?
Aku melupakan apa yang pernah ku lakukan
Aku melupakan apa yang dulunya ku prioritaskan
Lebih baik mereka yang berjalan di atas keistiqamahan daripada aku berubah menjadi sang mantan.
Sejak itu aku putuskan untuk tidak terlalu cepat menilai, karena ada satu hal yang mereka sembunyikan dan ia rahasiakan hanya ia dan Allah yang tau. Jadi, mau apa?
Congkakmu, hebatmu, pangkatmu tak ada apa-apanya jika tidak berpondasi RidhaNya
Akulah sang mantan yang pernah taat lalu melengahkan apa yang ku dapatkan
Akulah sang mantan yang pernah bertaruh meraih kebenaran lalu menyia-nyiakan apa yang telah ada di genggaman
Akulah sang mantan yang pernah gigih berjuang untuk menjadi sebenar-benar insan namun aku acuhkan ketika aku merasa semuanya telah sempurna
Aku sadar kesalahan terbesarku adalah ketika menganggap sepele dosa kecil dan pada akhirnya menjerumuskan, karena merasa terlalu baik membuatku tersadar bahwa aku lebih rendah dari mereka
Tentang mereka dengan kesalahannya, biarkanlah! Jangan sibuk dengan dosanya karena pada hakikatnya manusia memang tak luput dari dosa
Tentang mereka dengan kesalahannya, mari ajak untuk membaik bersama
Aku sadar akulah sang mantan itu bukan kamu yang pernah aku caci dalam hati dan bukan dia yang pernah aku nilai buruk dalam diam.
Oleh : Firda Windi
Komentar
Posting Komentar