Mengenal Wolff Schoemaker, Sosok Mualaf dan Arsitek

 

Snouck. C.P. Wolff Schoemaker, dikenal Schoemmaker adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang mualaf di masa kolonial.


Sudah bukan rahasia umum, jika bangunan peninggalan Belanda terkenal akan kekukuhannya sampai sekarang. Sebut saja Museum Fatahillah yang ada di Kota Tua, Benteng Belgica di Maluku, atau Villa Isola di Bandung, dll. Namun, pernahkah anda mendengar bahwa siapa sosok berjasa dibalik kemegahan ini? Tentu ada banyak sekali. Namun, di antara sekian nama yang terkenal, ada satu orang yang dulunya pernah dipercayai menjadi arsitek di masa lalu. Kisahnya menarik untuk ditelusuri.

Snouck. C.P. Wolff Schoemaker, dikenal Schoemmaker adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang  lahir di Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah, 25 Juli 1882. Ayahnya bernama Jan Prosper (J.P.) Schoemaker, seorang pensiunan kapten Koninklijk Nederlansch Indisch Leger (KNIL atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda).


Biografi keluarga .

Ayahnya adalah seorang penganut Katolik dan sangat mengkhawatirkan perkembangan Islam di Hindia Belanda. Menurutnya, pemerintah kolonial lalai menyikapi perkembangan ini. Dia sampaikan kritiknya kepada pemerintah melalui buku Het Aziatische Gevaar pada 1908. Namun, siapa sangka justru anaknya lah yang di kemudian hari masuk Islam.

“Dengan alasan yang tidak diketahui, Wolff Schoemaker keluar dari agama Kristen Katolik sekitar 1915 dan menjadi seorang muslim,” tulis C.J. van Dullemen dalam Arsitektur Tropis Modern Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker.


Mualafnya Arsitek

Dikutip dari Historia.id, Salmon Priaji Martana menyebut pindahnya agama Schoemaker memiliki dua versi cerita. “Ketertarikannya pada kebudayaan Islam sudah dimulai semenjak menjabat direktur di Gemeentewerken Batavia,” tulis Salmon dalam Wolff Schoemaker Karya dan Lingkup Dunia Sekelilingnya. Gemeenterwerken adalah Dinas Pekerjaan Umum. Schoemaker menjabat direktur bagian Batavia selama 1914—1917.

Versi kedua menyebutkan bahwa mojang Priangan menjadi penyebab Mualafnya Schoemaker. “Schoemaker berpindah agama Islam semenjak pernikahannya dengan seorang mojang (gadis) Priangan,” catat Salmon. 

Namun, ada beberapa pihak yang meragukan cerita ini. Dari versi Dullemen ia mencatat Schoemaker menikah lima kali. Empat istrinya orang Belanda dan satunya orang Tionghoa. Tidak ada catatan mengenai istri Schoemaker dari golongan pribumi.

Keputusan Schoemaker untuk masuk islam baru tersebar luas pada 1930-an. Saat itu dia telah menjabat sebagai asisten profesor dalam bidang sejarah arsitektur dan ornamen di Technische Hoogeschool Bandoeng (THB, sekarang Institut Teknologi Bandung). Dia mulai menggunakan nama Kemal untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim.


Reaksi Orang-orang

Keputusan itu menimbulkan reaksi dari berbagai pihak. Dari kalangan pelajar Indonesia, para mahasiswa menaruh hormat padanya. Tapi sebaliknya, dari kalangan sesama Eropa ia malah mendapatkan cibiran. Schoemaker adalah orang yang sangat terpelajar, ia  punya reputasi yang baik sebagai arsitek, dan memiliki jiwa selera seni dan budaya yang tinggi.

keputusan Schoemaker menjadi muslim pun turut mengangkat martabat Islam di mata kolonialis. Sebab, di masa itu, warga kolonial memandang Islam sebagai agama terbelakang dan adalah orang-orang yang anti perkembangan dan IPTEK.


Prestasi dan Kritik

Schoemaker adalah guru Soekarno selama studinya di Tecchnische Hogeschool Bandoeng. Aktivis sejarah dari Lokra Gatot Gunawan mengatakan bahwa Schoemaker memiliki hubungan emosional yang baik dengan Soekarno hingga akhir hayatnya.

Schoemaker berani mengatakan bahwa arsitektur tengah merosot di kalangan umat Islam  setelah melihat bentuk-bentuk masjid di Hindia Belanda. Menurutnya, tidak ada masjid menarik di Indonesia  yang mengandung nilai budaya. 

“Demikianlah di seluruh tanah Jawa ini, boleh dikatakan tidak ada satu pun masjid yang menarik perhatian dan membangunkan semangat. Tidak ada satu pun yang mempunyai arti sebagai buah arsitektur, baik tentang bangunnya ataupun tentang buatan bagian-bagiannya yang terkecil,” nilainya.

Dalam kritikan bukunya Cultuur Islam, 5 tahun sebelumnya ia telah merancang sebuah masjid berdasarkan ide-idenya tentang arsitektur Islam. Masjid ini terletak di Nijlandweg (sekarang Jalan Cipaganti), Bandung. 

 Masjid ini menampilkan pengaruh Arab, Eropa dan tradisional India Timur Belanda. Pengaruh Arab terlihat pada lengkung tapal kuda di pintu masuk dan dekorasinya, yaitu keramik masjid dengan tulisan Arab.

Schoemaker terus aktif meneliti Islam dan bergabung dengan organisasi Islam seperti Persatoean Islam Barat di Bandung. Atas nama organisasi tersebut, ia menulis  pengantar  buku Cultuur Islam karya Mohammad Natsir (kemudian menjadi tokoh Masyumi) pada tahun 1937. 

 Dalam pengantar buku tersebut, Schoemaker memuji Islam sebagai kekuatan pendorong pemikiran dan peradaban ilmiah di Eropa abad pertengahan. Dalam pandangannya, orang-orang Eropa berutang budi pada filsuf dan ilmuwan Muslim untuk meneliti karya para pemikir Yunani dan Romawi di bidang filsafat, budaya, dan sastra.

Sembari memuji peran Islam di Eropa, Schoemaker juga mengakui adanya degradasi peradaban sebagian besar umat Islam di abad ke-20. Dengan kata lain, munculnya Renaissance di Eropa tidak dibarengi dengan kemajuan Islam di negara lain.


Akhir Perjalanan

Schoemaker mempunyai prinsip hidup yang unik. Dia telah menggali ajaran Islam bertahun-tahun dan sebelum akhirnya menunaikan haji pada 1938. Dia mungkin mengetahui adanya larangan dalam Islam menampilkan lukisan atau patung menyerupai manusia dan binatang. Tetapi, dia masih membuatnya hingga akhir hayatnya.

Akhirnya, Pada 22 Mei 1949 Schoemaker tutup usia karena sakit. Ia dimakamkan di TPU Kristen Pandu Bandung. Lokasi makamnya berada di antara makam yang padat dan saling berhimpit. Tak diketahui apakah Schoemaker masih memeluk Islam hingga tutup usia. Namun, di akhir hayatnya ia dikebumikan secara Katolik karena keinginan sang keluarganya.



Semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini.




Ditulis oleh: Muhammad Falih, Mahasiswa FDI Semester 5

Komentar