Kisah Cinta di Pesantren Kota Hujan



Dahulu, ada seorang pemuda  yang pemalu, pendiam, dan tidak terlalu bisa bersosialisasi. Hari demi hari, waktu demi waktu terus berjalan dalam kehidupan pemuda ini. Sampai di suatu waktu tiba, pemuda Ini lulus dari sekolah tingkat menengah pertama nya dengan nilai yang amat begitu tinggi, sehingga begitu banyak dorongan dari guru-gurunya, teman-temannya agar ia meneruskan  jenjang pendidikannya ke sekolah menengah atas negeri yang bagus dan berkualitas dan terpandang di kancah Indonesia maupun internasional.

Setelah kejadian tersebut, pemuda ini menanyakan kepada kedua orang tua nya untuk mendapatkan jawaban mengenai pendidikan selanjutnya, namun jawaban yang diberikan mereka berdua yaitu “anakku.. sholat istikhoroh dan terus minta sama Allah, pasti kamu akan diberi jawaban yang terbaik”. Akan tetapi pemuda ini tidak berhenti berkonsultasi kepada kedua orang tua nya saja, ia pun menanyakan perihal yang dimilikinya kepada guru ngaji nya, kemudian beliau berkata ”wahai muridku.. jadilah penerus bangsa ini dengan ilmu agama islam, karena bangsa ini sedang kurangnya ilmu agama islam maka kamu harus memiliki ilmu itu, jadi pergilah dan teruskanlah pendidikanmu di pesantren.” Dari kedua jawaban itu, si pemuda ini mengambil keputusan yang bulat yaitu meneruskan pendidkannya di pondok pesantren.

Dimulai dari pencarian pondok pesantren… Dari Jakarta menuju Banten, Banten menuju kota Bekasi, Bekasi menuju kota hujan dihujani ditengah-tengah perjalanan, akhirnya ia menemukan pondok pesantren yang tepat dan nyaman baginya yaitu di pesantren kota hujan.

Bermulailah cerita kehidupan baru bagi si pemuda ini, di tempat yang akan menjadikan ia pemuda yang kuat dengan kemandiriannya serta manusia yang agamis berselimutkan akhlak dan pengetahuan yang amat luas baik itu ilmu sejarah maupun ilmu untuk kedepannya. Yang mana disetiap harinya ia harus bangun sebelum matahari memunculkan sinarnya bahkan hewan pun masih banyak yang terlelap dalam tidurnya demi mempersiapkan diri untuk membacakan lantunan ayat suci alquran dilanjut dengan sholat subuh berjamaah di dalam rumah tenang lagi sejuk yang dinaungi kebarokahan dari sang pencipta alam sampai sang surya memunculkan dirinya di hadapan alam semeta ini. Tak lama setelah itu bunyi suara perut pun mulai terdengar oleh rerumputan dan burung-burung yang berlalu lalang tanda bahwa perut harus terisi dengan asupan yang begizi lagi sederhana yaitu sepiring nasi ditemani dengan orek tempe serta kerupuk untuk menghiasi makanan disetiap paginya.

Bunyi lonceng atau biasa disebut oleh anak-anak pesantren dengan sebutan JAROS mulai terdengar yang barengi dengan suara pengurus yang menghitungi para santri dengan suara yang begitu lantang sampai mensetarai dengan bunyi JAROS diiring juga langkah-langkah para santri yang berlarian sebagai tanda harus bergegas berangkat menuju sekolah. Tak hanya ketika berangkat ke sekolah, ketika berangkat menuju masjid, ketika mandi, diwaktu makan, semua teratur dengan ketukan lonceng yang disertai dengan suara pengurus yang menghitungi para santri agar segera bergegas untuk beranjak ke kegiatan berikutnya, sampai membuat badan si pemuda selalu sehat untuk menimba ilmu didalamnya.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun telah ia lewati dalam menuntut ilmu di pondok pesantren kota hujan. Berjuta juta kenangan yang dilalui bersama teman-teman seperjuangannya, berjuta-juta ilmu yang telah ia dapati dari ratusan guru disana yang selalu mendoakan murid-muridnya kelak menjadi orang bermanfaat untuk diri sendiri, kedua orang tuanya, orang-orang disekitarnya, bahkan untuk negeri ini. Tibalah saatnya ia harus meninggalkan tempat bernaung yang amat ia cintai, tempat harta karunnya dalam menimba ilmu demi menjadi manusia yang baik. Sungguh kenangan indah, sedih, sakit, kecewa yang diselimuti banyak keberkahan pada diri pemuda ini dalam menuntut ilmu di pesantren kota hujan ini.



Karya : Ahmad Rifai (Mahasiswa FDI 2017)

Komentar