Meredakan Pertikaian dengan Perdamaian: Membangun Dialog di tengah Konflik Islam dan Yahudi.


Dunia sedang dilanda krisis humanisme yang begitu darurat. Manusia telah kehilangan sebagian atau bahkan seluruh dari jiwa kemanusiaannya. Pertikaian antara bangsa Palestina dan Israel kini kembali terjadi. Serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober lalu memicu serangan balik Israel yang mengakibatkan ribuan jiwa manusia terenggut nyawanya. Peristiwa ini tentu membuat banyak pihak yang merasa dirugikan, baik dari segi infrastruktur yang berantakan, fasilitas yang hancur maupun keluarga korban yang hanya mampu menyimpan penyesalan serta kepedihan yang mendalam. Konflik ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang; yaitu melalui agama saja. Karena dampak pertikaian ini telah meluas ke berbagai ranah dalam pemerintahan baik dari negara terkait serta dunia. Peristiwa ini mestinya menjadi momentum yang tepat—khusunya bagi para muslim—untuk mengkaji, menelaah serta merenungi apa sebenarnya yant terjadi di antara agama Islam dan Yahudi?

Adanya pergulatan sengit antara Palestina dan Israel semakin mempertajam sudut pandang terhadap hubungan yang kurang elok antara kedunya. Persoalan ini memunculkan perdebatan dan konflik yang memburuk. Namun, sebelum saling menyalahkan satu sama lain, penting untuk menyadari bahwa penyebab pertikaian ini bukan karena agama semata tetapi juga ada unsur politik serta perebutan wilayah yang turuy serta mendominasi terjadinya pertikaian. Sebab dari sudut pandang agama, bahkan kedua agama ini berakar dalam monoteisme dan memiliki akar sejarah yang sama. Artinya kedua agama ini masih memiliki potensi untuk menjalin perdamaian dan membangun kemanusiaan bersama.

Sekilas sejarah mencatat bahwa Islam dan Yahudi memiliki akar yang sama, yakni pada nabi Ibrahim. Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan keyakinan dan perspektif menciptakan kesalahpahaman dan ketegangan yang tak berujung. Baik umat Muslim maupun umat Yahudi seringkali saling mencurigai satu sama lain, menyebabkan ketidakpercayaan yang mendalam. Permasalahan ini berkembang dari persoalan-persoalan sepele hingga persoalan yang sangat rumit, seperti status tanah Palestina, yang seringkali dijadikan pemicu konflik antara kedua agama ini.

Namun, dalam tengah konflik ini, ada aspek yang lebih mendalam dan esensial yang perlu diperhatikan, yaitu kemanusiaan. Ini bukan berarti kemanusiaan merupakan hal penting di atas agama, tetapi justru kemanusiaan merupakan salah satu bentuk implementasi dari agama itu sendiri. Seorang beragama yang mengabaikan kemanusiaan, hidupnya tak akan lebih rendah layaknya jasad tak bernyawa. Karena hakikatnya agama merupakan sumber kebaikan yang mampu menjadikan manusia lebih baik, lebih bijak, dan lebih manusiawi.

Ada salah satu kisah menarik yang mungkin bisa dijadikan inspirasi agar kita mampu membangun sebuah dialog keberagamaan yang baik dengan kelompok agama lainnya. Kisah Rabi Marc Schneier dan Imam Shamsi Ali, dua tokoh yang pada awalnya saling mencurigai, yang pada akhirnya dapat memberikan pelajaran berharga. Dua orang ini akhirnya berdialog dan menyadari bahwa persaudaraan, perasaan saling menghormati, dan pembicaraan terbuka adalah kunci untuk memecah belenggu prasangka dan ketidakpercayaan. Mereka berbicara tentang isu-isu sensitif, seperti konsep "bangsa terpilih" dalam agama Yahudi dan "khairu ummah" dalam agama Islam. Hasil dari dialog mereka adalah upaya untuk membangun perdamaian di antara komunitas Muslim dan Yahudi.

Selama berabad-abad, konsep "bangsa terpilih" telah menjadi sumber perdebatan. Namun, sejumlah umat Yahudi modern menganggap konsep ini berlebihan dan menolaknya karena melihatnya sebagai potensi untuk mendorong rasisme terhadap umat non-Yahudi. Penting untuk mencari makna yang lebih halus dari konsep ini dan menghindari penafsiran yang salah.

Antisemitisme dan Islamofobia adalah dua ancaman serius yang dihadapi oleh komunitas Yahudi dan Muslim. Meskipun istilah-istilah ini berbeda, mereka memiliki dampak yang sama, yaitu memecah-belah masyarakat dan menciptakan ketidaksetaraan. Umat kedua agama ini harus bersatu melawan diskriminasi ini dan menggantinya dengan cinta dan pemahaman.

Salah satu pelajaran yang harus diambil adalah persamaan hak semua manusia. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Ini juga berlaku untuk agama. Agama seharusnya menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan dengan damai. Berlebihan dalam mencari kelebihan agama atau bangsa atas yang lain hanya akan memperdalam konflik. Fokus pada persamaan antara agama Yahudi dan Islam dapat membuka pintu bagi dialog yang lebih positif dan solusi yang lebih damai.

Konflik yang terus berlanjut antara umat Muslim dan Yahudi seringkali merupakan dampak dari ketidakpercayaan. Ini seperti sebab Muslim membenci Yahudi karena berpikir bahwa Yahudi membenci mereka, dan sebaliknya. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui dialog, kerjasama, dan menyebarluaskan kasih sayang kepada semua makhluk.

Dalam konteks konflik terkini di Palestina dan Israel, penting untuk mendengar dan memahami perspektif dari kedua belah pihak. Hanya dengan dialog dan kerjasama yang sejati, dunia dapat bergerak menuju perdamaian dan persahabatan yang lebih kokoh. Kesadaran akan persamaan manusia dan kemanusiaan harus menjadi inti dari setiap upaya dalam merespons konflik ini.

Wa Allahu ‘Alam bi shawwab

Penulis: Elsa Balqis Shafira.


Komentar