Lima Kata Penghapus Dosa “TOBAT”
Berbicara tetang realita kehidupan di dunia, pasti tak luput dari segala pernak
pernik pehiasan yang melekat didalamnya, aroma kefanaan dan sandiwara tercium
menyengat bak ular yang telah menemukan mangsa, tiap langkah yang ditempuh
seorang hamba menjadi arena pertandingan
dalam meraungi hiruk pikuk
kehidupan dalam mencapai keridloan-Nya. Tanpa kita sadari, berapa banyak buih -
buih dosa yang telah diangkut dari lautan maksiat? Mata ini masih saja
melanggar batasan-Nya, telinga yang selalu terbuka untuk mendengar kebohongan
dari mulut yang angkuh dan tak bertanggungjawab, mulut yang sangat mudah
mengeluarkan kata-kata yang menusuk dada, begitu juga dengan kaki, tangan dan seluruh
anggota badan manusia yang tak pernah henti memberikan goresan –goresan hitam
yang penuh dengan noda. Lantas, bagaimana cara kita menghapus noda tersebut dan
megobati luka yang terlanjur parah?
Pertanyaan
tersebut pada hakikatnya telah dijawab oleh Allah dalam firman-Nya, “dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka
tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”
Dalam
kutipan ayat diatas menerangkan, bahwa Allah itu maha pemurah dan maha pengampun,
Dengan mudahnya Ia menghapus tinta merah di dalam catata amal seseorang.
Seandainya Ia pedendam dan pelit, maka tak ada gunanya seseorang hiidup di
dunia, sunguh amat rugi bagi yang tidak memanfaatkan kesempatan yang Allah
berikan. Segala bentuk kesalahan mulai dari yang terbesar sampai terkecil
diampuni oleh Allah, dengan syarat harus ingat dan meminta ampun kepada-Nya,
atau dengan istilah tepatnya yaitu bertaubat.
Secara
definisi, banyak ulama yang memberikan definisi tentang taubat, seperi halnya
yang dikemukakan oleh Imam Ath-Thabrani (w. 310 h) dalam tafsirnya, ia
mendefinisikan taubat dengan kembali dari dosa kepada taat diiringi dengan
permohonan ampun dan tidak mengulangi kembali perbuatan maksiatnya itu
selama-lamanya.
Walaupun
Allah itu maha pengampun, namun Ia tahu mana diantara hambanya yang bersungguh
– sungguh dalam memcari ampunannya dengan mereka yang hanya mempermainkanya.
Sungguh mereka tidak tahu bahwa adzab telah menunggu mereka yang mempermainkan
ampunan Allah. Karena mempermainkan ampunan Allah itu sama halnya dengan
mempermanikan Allah sang maha bijaksana. Dan sungguh adzab Allah itu lebih
pedih,
Dalam
Al-Quran ataupun Sunnah Nabi, banyak kita jumpai ayat ataupun hadits yang
menganjurkan kita untuk bertaubat, bahkan Rasulullah yang merupakan manusia yang
paling sempurna sekalipun mengajarkan kita untuk bertaubat dengan amalan
yaumiyahnya yaitu membaca istighfar sebanyak seratus kali, lantas bagaimana
degan kita yang hanya manusia biasa yang luput dari lupa dan dosa sebagaimana
asal dari “insan” (manusia) yang sangat dekat dengan akar katanya “nisyan”
(lupa).
Oleh
karena itu, sebagian ulama sufi ada yang berpendapat bahwa hukum tobat adalah
wajib bagi seluruh manusia, hingga bagi para nabi dan wali-wali sekalipun. Dan
sebagian yang lain membagi tobat menjadi beberapa tingkatan, seperti halnya
yang dikemukakan Syaikh Abdul qadir al-Jilani (w.561 h) dalam karyanya Sirr
al-Asrar.
Kamilah, Pengurus LDKSFDI 2017/2018
Komentar
Posting Komentar