Menelisik Perang Badar dalam Persepektif Keseimbangan antara Usaha dan Doa
Sayyidina
Muhammad adalah seorang Nabi sekaligus Rasul terakhir yang menyempurnakan
ajaran Nabi dan Rasul terdahulu yaitu ajaran tauhid, sosok seorang pemimpin
yang amat di dambakan oleh setiap orang pada masanya, inilah yang tentu kita
harapkan dapat memimpin sebuah negara. Sosok yang selalu memiliki toleransi
besar terhadap umatnya tak memandang ras, suku dan budaya sekalipun berbeda
agama, terlebih yang perlu kita ingat adalah seorang pemimpin yang amat
memikirkan dan peduli terhadap rakyatnya, beliau selalu menyiarkan Islam dengan
jalur perdamain selagi mampu untuk di negosiasikan sebelum berakhir pada
peperangan.
Perang
Badar adalah peperangan yang terjadi di Badar tanggal 17 Ramadhan tahun 2
Hijriah, bertepatan dengan 624 Masehi. Badar adalah sebuah tempat pemberhentian
dan perlintasan yang terletak di jalan utama dari Madinah ke Mekah atau ke
Jeddah. Ia juga terletak di barat daya Madinah, berjarak 148 km dari Madinah. Disinilah,
terjadi peperangan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin Mekah. Dalam
peperangan ini kaum muslimin berjumlah 313 orang langsung dipimpin oleh
Rasulullah beranjak dari Madinah menuju wilayah perkebunan kurma yang berada di
Al Udwatud Dunya. Sementara, dari arah selatan pasukan musyrikin datang dari
Mekah dengan 950 orang dan berada di posisi Al Udwadul Quswa. Diantara kedua
golongan pasukan itu terdapat Lembah Badar.
Namun kali ini yang akan kita sudut pandangi adalah salah satu nilai keseimbangan
antara usaha dan doa. Sejarah mencatat bahwa kemenangan ini di tunjukan kepada
pihak kaum muslimin, padahal perbedaan masa dan kelengkapan perperangan lebih
unggul dimiliki oleh kaum Quraisy dan kabilah-kabilah Makkah, apa yang
menyebabkan kekalahan pasukan Makkah ?
Setelah dilihat dari beberapa
bukti sejarah, bahwa kaum muslimin memiliki strategi perang yang mendukung
untuk memenangkannya peperangan, mereka (pasukan rasul) saat itu mecuri start
untuk membuat posisi perang di kawasan mata air badar mendahului pasukan makkah
agar musuh tidak bisa menguasai mata air.
Saat
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah menentukan satu posisi, al- Habab
bin Mundzir Radhiyallahu anhu mengeluarkan pendapatnya, “Wahai Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimanakah pendapat anda tentang posisi ini?
Apakah posisi ini diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla sehingga kita tidak boleh
maju atau mundur? Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja?" Beliau menjawab: “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja.” al-Habab
Radhiyallahu anhu mengatakan: “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat,
bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. kita
kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu
kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara
mereka tidak bisa.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-
Habab Radhiyallahu anhu, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.”
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya dan melakukannya.
Inilah kecerdasaan dan usaha yang dilakukan oleh kaum muslimin saat itu, di
samping itu rasulullah selalu berdoa memohon kepada Allah SWT agar di permudah dan
diberikan kemenangan, meskipun sudah pasti Allah akan mengijabah doa beliau
namun beliau tetap berdoa dengan khusuknya dan sungguh-sungguh sampai
mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehingga sorbannya sampai jatuh ke tanah,
ini merupakan bentuk kongkrit kesungguhan rasulullah dalam berdoa.
Nilai
inilah yang sangat relevan untuk kalangan mahasiswa, khususnya untuk terus
berusaha menjadi seorang akademisi yang berpotensi dan berkualitas sehingga
cerdas dalam menyikapi sebuah permasalahan ataupun cerdas membuat strategi
dakwah. Selain itu, doa yang terus diimbangi agar meyeimbangkan antara usaha dan
doa akan menghasilkan pencapaian yang maksimal. Karena usaha yang tak diimbangi
doa tidak akan mendapatkan pencapaian yang maksimal serta tak akan ada
keberkahan di dalamnya.
Barangsiapa
bertakwa kepada Allah SWT, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya.” QS. Ath-Thalaq (65) : 2-4.
Minta
kepada Allah pasti akan dikabulkan, karena Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Jika seorang hamba berprasangka bahwa Allah itu dekat dan permintaannya pasti dikabulkan oleh
Allah. Pastilah Allah pun dekat dan akan memberi apa yang diminta oleh hambanya
sesuai dengan Hadist berikut :
Hadis
riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Allah
Ta'ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku
selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam
dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku
dalam suatu jamaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan
makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka
Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan
mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku
akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832).
Jadi
siapapun orangnya, baik atau buruk, alim atau tidak bahkan untuk orang-orang
yang kadang melanggar larangan Allah pun jika mau meminta kepada Allah pasti
diberi. Itulah pentingnya menyeimbangkan
antara doa dan usaha.
(Irhas Abdul Hadi, Pengurus LDKSFDI 2017-2018)
Komentar
Posting Komentar