Sejarah Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran



                Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua di dunia dengan jumlah penutur terbanyak kelima setelah bahasa China, Spanyol, Inggris dan Hindi. Arabic Ethnolouge mencatat bahwa penutur Bahasa Arab berjumlah sekitar 242, 391 juta penutur yang tersebar di berbagai belahan dunia. Jika dilihat dari kelompok bahasanya, maka bahasa arab termasuk ke dalam rumpun bahasa Semit Tengah yang masih berkerabat dengan bahasa Ibrani dan Neo Arami. Para pakar linguistik telah banyak berupaya untuk menelusuri asal-usul bahasa Arab, data-data yang sampai di tengah kita sekarang menyebutkan bahwa bahasa Arab merupakan sebuah bahasa yang dituturkan oleh bangsa Semit yang mendiami daratan semenanjung Arabia.

            Untuk menelusuri lebih jauh terkait asal-muasal bahasa Arab, para pakar linguistik mengalami berbagai kesulitan, walau bagaimanapun juga, kegiatan menelusuri asal suatu bahasa merupakan hal yang harus bersumber dari bukti-bukti otentik yang dapat dipercaya. Banyak literatur mencatat bahwa awal mula rumpun Semit berasal dari Sam salah satu putra Nabi Nuh A.S yang mendiami wilayah semenanjung Arabia setelah peristiwa banjir besar. Sebagian pakar berpandangan bahwa rumpun bahasa Semit merupakan turunan dari rumpun bahasa Afroasiatik atau Afrasian. pandangan ini bersandar kepada sebuah teori yang mengatakan bahwa awal mula bahasa dunia berasal dari daerah dimana manusia pertama menetap yaitu sekitar Afrika Asia. Saat ini penutur bahasa dari rumpun Afroasiatik terdapat di sebagian besar wilayah Timur Tengah, Seluruh Afrika Utara, sebagian besar Afrika Timur Laut dan Afrika Tengah.

            Beberapa rumpun bahasa Semit telah mengalami kepunahan seperti apa yang terjadi pada bahasa Akkadiah, bahasa Assyuriah dan bahasa Babilonia. Di samping itu, rumpun bahasa semit lainnya yang masih ada hingga sekarang adalah bahasa Ibrani dan bahasa Aramik yang hanya digunakan dalam penulisan naskah-naskah kuno. Sedangkan bahasa Arab, telah mendapatkan legitimasi perlindungan dari Allah SWT setalah diturunkannya al-Qur’an dalam bahasa Arab. Para ulama, selanjutnya berupaya untuk menjelaskan sebab mengapa al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Mereka menemukan fakta bahwa bahasa Arab telah berkembang dalam suatu daerah yang gersang, dimana bangsa Arab kala itu merupakan bangsa yang suka berpindah-pindah. Lingkungan gurun pasir telah membentuk karakteristik tersendiri bagi bangsa Arab yaitu memiliki keyakinan yang kuat, keberanian yang besar, fisik yang kokoh, tidak mudah mengaduh, loyal pada kelompok dan daya imajinasi yang besar.

            Kecenderungan untuk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain telah menciptakan perpecahan dalam tubuh bangsa Arab, mereka terpecah ke dalam berbagai suku. Perpecahan bangsa Arab ini juga telah menumbuhkan rasa fanatisme golongan yang berlebihan sehingga menimbulkan jiwa persaingan yang sengit antara satu suku dengan yang lain. Persaingan ini terjadi dalam segala aspek, tidak terkecuali pada aspek bahasa. Setiap suku saling berlomba melantunkan syair Arab dalam dialeknya masing-masing. Namun selalu saja mereka dapati bahwa dialek yang paling baik adalah dialek orang-orang suku Quraisy.

            Keunggulan dialek suku Quraisy ini disebabkan karena keadaan mereka yang mengisolasi diri dari bercampur dan berinteraksi dengan orang-orang asing. Sehingga, bahasa Arab yang mereka pakai masih terjaga keasliannya dan terpelihara kefasihannya. Oleh sebab itu, al-Qur’an pada mulanya diturunkan dalam bahasa Arab dengan dialek suku Quraisy. Ketika Rasulullah Saw hijrah ke madinah, Rasul mendapati bahwa penduduk madinah mengalami kesukaran dalam membaca al-Qur’an dengan dialek Quraisy hingga akhirnya Rasul meminta kepada Allah agar diturunkan pula al-Qur’an dengan dialek yang mereka miliki. Perbedaan dialek itu nantinya akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuh bahasa (sab’u al-lughat) meskipun para ulama hingga saat ini masih saling berbeda pendapat dalam menafsirkan makna tujuh bahasa tersebut.
             
(Difa El Haq, Ketua Divisi Syiar LDKSFDI 2018)

Komentar

Posting Komentar