Srikandi Islam Masa Kini
Jika kita
membicarakan mujahid-mujahid yang dirindu syurga, rasanya kurang lengkap jika
tidak membahas mujahidah yang membuat cemburu para bidadari syurga. Zainab
Al-Ghozali, mujahidah tangguh nan mulia dari negeri piramida. Ia lahir di desa
Mayyet Ghanmar di sebuah propinsi yang bernama Daqahliyah pada 2 Januari 1917.
Juga lahir dari keluarga terhormat, keturunan Umar Bin Khattab dan Hasan Bin
Ali Bin Abi Thalib. Zainab belajar ilmu agama di madrasah kampung halamannya,
dibawah naungan ulama-ulama al-Azhar. Ayahnya salah satu ulama di al-Azhar.
Ayah Zainab selalu berupaya mendidiknya menjadi wanita yang kuat dan tangguh,
seperti salah seorang shahabiyah yaitu Nusaibah Binti Kaab yang berjuang
di perang Uhud bersama Rasulullah SAW.
Awal perjalanan
dakwah Zainab dimulai saat ia berusia sekitar 18 tahun. Saat itu Zainab
tergabung dalam organisasi EFU (Egyptian Feminist Union). Tujuan awal ia
bergabung dalam organisasi tersebut adalah untuk memperjuangkan hak wanita yang
sesuai dengan syariat Islam. Tetapi, apa yang diharapkan Zainab berbeda dengan
kenyataannya, karena EFU lebih bergerak dengan metode sekularisme dalam
menyuarakan hak wanita.
Pada tahun 1936, Zainab
mendirikan Jami’at Al-Sayyidat Al-Muslimin atau dikenal dengan Muslim Ladies
Association (MLA). Tujuan organisasi tersebut untuk memimpin wanita Islam dalam
menyebarkan panji Islam sesuai syariat dan menjauhkan diri dari paham
sekularisme. Juga mengajarkan nilai-nilai pemahaman Islam yang kaffah
dan mengembalikan hak wanita sesuai syariat Islam. Kegiatan MLA pun beragam,
mulai dari madrasah kuliah mingguan, juga dari bidang sosial seperti mengelola
panti asuhan, menyantuni rakyat miskin, menerbitkan majalah dan kegiatan
lainnya.
Zainab mengalami
tantangan dakwah yang luar biasa dimasa terjadinya revolusi Mesir. Ia melihat
keadaan pemerintah yang sangat dzalim kala itu. Karena beliau adalah
orang yang gigih dan bersemangat dalam memperjuangkan nilai Islam. Zainab
kemudian mengirimkan tulisan ke media massa nasional dengan isi mengkritik
kebijakan pemerintah. Lalu ia mendapat respon negatif dari pemerintah yaitu dengan
dimasukkannya ke dalam penjara secara paksa.
Berbagai macam
siksaan Zainab telah rasakan saat di penjara. Bahkan siksaan yang diterimanya lebih
parah dari siksaan bagi para lelaki. Ia dimasukkan ke dalam bilik kecil yang
gelap dengan keadaan terikat. Zainab dipukuli
dan dicambuk dengan tongkat, kakinya digantung ke atas, direndam seharian dalam
air, juga disajikan padanya roti kering dengan olesan najis di atasnya. Pernah
pula, suatu hari tentara memasukkan anjing-anjing buas ke dalam selnya. Dengan
dibalut kain putih, ia tiada henti berdoa “Ya Allah sibukkanlah aku dengan
mengingat-Mu, sehingga hal lain tak terasa olehku. Cukuplah Allah menjadi
penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. Lalu alangkah
terkejutnya ketika pintu sel dibuka, dan tak ada luka sedikitpun pada diri Zainab
Al-ghozali.
Allah SWT telah
menunjukan kuasa dan pertolongan-Nya pada kejadian tersebut. Zainab Al-Ghozali
wafat 3 Agustus 2005 diumur 88 tahun. Ia telah melakukan banyak perjuangan dan
pengorbanan dalam hidupnya. Bahkan setelah keluar dari tahanan pun, ia mampu
menghasilkan sebuah karya dengan judul Ayyamun min Hayati yang
menceritakan kisahnya di dalam tahanan. Semoga dalam kisah perjuangan Zainab
Al-Ghozali dan kisah mujahid-mujahidah lainnya bisa membuat kita semakin
mencintai perjuangan di jalan-Nya, Aamiin.
Nada Fadillah W – Pengurus LDKSFDI
2017/2018
Barakallah
BalasHapus